fbpx
panduan digital marketing filantropi

Panduan Digital Marketing untuk Filantropi (2020)

Saya merangkum panduan ini berdasarkan pengalaman saya membangun pondasi tim digital marketing dan fundraising selama 5 tahun berkarir di Dompet Dhuafa.

Panduan digital marketing berisi hal-hal fundamental dan dasar untuk lembaga sosial filantropi  masuk di dunia Digital Marketing & Fundraising. Panduan ini akan membantu kamu dalam beberapa hal.

  • Bagaimana meningkatkan fundraising melalui kanal digital.
  • Bagaimana membangun tim digital marketing
  • Bagaimana mengatur bujet
  • Dan yang paling penting adalah donasi terhimpun secara konsisten terus bertumbuh.

Apakah panduan ini bisa digunakan untuk industri lain? tetap bisa mungkin yang membedakan adalah studi kasus dan pendekatanya saja. Tetapi beberapa prinsip tetap sama.

Saya akan membaginya menjadi beberapa poin agar kamu bisa mengikutinya dengan mudah. jadi kamu gak perlu buang-buang biaya karena akan banyak belajar dari kesalahan yang telah saya lalui di masa lalu.

Para pegiat filantropi wajib lebih berhati-hati dalam melangkah apa lagi yang membutuhkan biaya cukup besar.

Mulai dari mindset

Marketing konvensional / offline sangat berbeda jauh dengan digital marketing. Di Digital Marketing kita harus punya mindset  yang luwes (agile). Hal ini dukung oleh beberapa hal.

  • Cepatnya pertumbuhan teknologi
  • Tren market sangat dinamis bahkan di beberapa kasus perubahan bisa terjadi setiap hari.

Sederhananya untuk terjun di digital marketing kita harus punya mindset seorang peniliti. Setiap hari, setiap minggu, setiap bulan kita harus meniliti banyak indikator yang disajikan. Mengambil pelajaran dari data-data tersebut dan memperbaiki metode atau hal teknis yang sedang kita lakukan.

Pola seperti ini akan kita lakukan secara terus menerus untuk mendapatkan hasil yang terbaik di setiap waktu. Lingkaran ini kapan selesainya? Sempurna itu hanya milik Allah, Karena itu lingkaran diatas harus terus berputar.

Setelah evaluasi selalu rencana baru atau improvisasi

Digital marketing memudahkan kita untuk mengukur banyak hal.

Perbedaan paling signifikan dari digital marketing adalah banyak metriks pengukuran yang bisa kita dapatkan.

  • Berapa kali iklan/konten kita di lihat orang ( Session)
  • Berapa banyak orang yang melihat iklan/konten kita (Reach)
  • Berapa banyak orang yang berinteraksi dengan iklan/konten (engagement)

Coba kita bandingkan dengan marketing konvensional yang sangat terbatas.

  • Apakah kita tahu berapa orang yang lihat iklan kita di koran/majalah? Jawabanya gak tahu. kita cuma di kasih tahu koran/majalah tersebut dicetak berapa banyak.
  • Berapa banyak orang yang lihat iklan kita di billboard dan spanduk? Jawabanya sama! gak tahu juga. Kita cuma di kasih tahu bahwa lokasi billboard ini ramai dan dilalui banyak orang dan kendaraan. Sekali lagi kalau kita tanya berapa banyak orang yang lihat? Jawabanya tetap sama. Gak tahu.
  • Kalau TV?  sama aja sih. walaupun katanya ada rating. Masih banyak yang mempertanyakan metodenya dan data tersebutpun hanya sampling.

Kembali ke digital marketing ya, bahkan di dunia digital kita bisa mengetahui hal-hal yang lebih dalam seperti:

  • Umur
  • Domisili
  • Karakteristik
  • Interaksi Terhadap Brand Kita.
  • Menggunakan handphone apa
  • dll.

Paling tidak ada 3 hal yang bisa kita lakukan dengan mempelajari beberapa metriks diatas.

  1. Harus membuat konten seperti apa?
  2. Gaya berkomunikasinya bagaimana?
  3. Serta harus mulai dari mana?

Khusus untuk poin ke 3 butuh keahlian tingkat mahir agar kita bisa menerapkanya. Digital marketing memungkinkan kita untuk mengetahui siapa saja yang akrab dengan brand kita, siapa saja yang sekedar kenal, dan siapa saja yang loyal.

Setiap fase membutuhkan pendekatan komunikasi yang berbeda.

Tentunya orang yang sudah akrab dengan brand kita gak perlu lagi konten basa basi dan memperkenalkan diri. Langsung saja ke inti pesannya.

Namanya aja digital marketing, kamu harus belajar “Marketing” juga

Hal ini mungkin yang sering kali terlewat dari kita. Karena sudah termakan jargon jualan para digital marketer.hehe

  • Digital marketing irit biaya.
  • Dengan digital marketing mesin uang gak berhenti 24 jam.
  • Cukup 1 Bulan omset Milyaran

Namanya juga dagang ya bapak ibu. butuh banyak jargon-jargon heboh biar daganganya laku. Banyak orang yang mengajarkan digital marketing hanya di aspek teknologinya saja. Facebook ads, Google ads, email marketing, dan seterusnya hanyalah sebuah teknologi.

Teknologi tanpa teknik menjual yang benar juga bisa boncos.

Jangan heran kalau kamu menemukan banyak lembaga sosial/bisnis yang sudah mengeluarkan ongkos besar untuk sistem donasi, iklan dan bayar SDM tapi hasilnya masih kurang memuaskan.

Itu semua karena kita asyik belajar digitalnya saja tapi lupa sama aspek marketing dan penjualan. Untuk memperkuat insting marketing, kamu bisa mempelajari beberapa hal berikut:

  • Riset Pasar
  • Psikologi & perilaku Konsumen
  • Copywriting
  • Ilmu Branding
  • Strategi Harga
  • Product Knowledge
  • CRM
  • Partnership
  • dll
Buku rekomendasi saya untuk kamu belajar marketing & sales

Catat dengan benar donasi yang masuk melalui kanal digital

Banyak lembaga sosial atau filantropi yang melupakan hal ini. Apa lagi yang lembaganya telah hadir sebelum masa digital marketing berkembang pesat. Mereka juga terbiasa dengan galang dana gaya konvensional.

Yang dimaksud benar-benar mencatat seperti apa sih?

Salah satu kasusnya adalah kita masih menyatukan nomor rekening yang dipasang di spanduk, pamflet, baliho dengan nomor rekening yang di pasang melalui sosial media, website, dll.

Kalau ada donasi yang masuk ke rekening, kamu bisa tahu itu donasi melalui kanal apa? gak tahu kan! karena kita memang bukan dukun. eeh. maksud saya kita bukan Tuhan yang tahu segala hal.

Kenapa penting bagi kita untuk benar-benar mencatat? agar…

  • Kita tahu berapa nilai pasti donasi yang terkumpul melalui kanal digital
  • Kita tahu berapa pertumbuhanya
  • Kalau kita tahu berapa pertumbuhanya kita jadi tahu efektifitasnya
  • Jika kita sudah tahu ketiga hal di atas dan hasilnya positif, akan timbul gairah dan semangat untuk terus membangun kanal digital marketing fundraising.

Bagaimana cara memisahknya?

  1. Cara paling mudah memisahkan nomor rekening yang akan kita gunakan di kanal digital dan konvensional.
  2.  Gunakan platofrm crowdfunding seperti kitabisa.com, sharinghappines.org , dll.
  3. Buat sistem donasi sendiri. Gak perlu secanggih web crowdfunding, bisa juga sesederhana  menggunakan form.

Daftar di atas saya urutkan dari hal yang paling mudah di no 1 dan paling sulit di no 3.

Memisahkan nomor rekening memang paling mudah, tapi kekuranganya adalah tidak terlihat canggih. Karena masih banyak tahapan yang harus kita lakukan secara manual. salah satunya adalah ucapan terima kasih telah berdonasi

Platform crowfunding sistemnya sangat canggih. Buat membangun sistem secanggih kitabisa.com sih sudah pasti butuh investasi Miliaran rupiah. hehehe. Kekurangan di crowdfunding eksternal tuh.

Sistem tersebut bukan milik kita, kita hanya numpang mampir.

Ada kemungkinan kampanye donasi kita di tolak, bisa juga kita diusir, dan yang paling ekstrem adalah data donatur gak di kasih. Namanya juga numpang, yang punya rumah memiliki wewenang penuh atas teritorinya.

Satu hal lagi, yang namanya numpang kita gak bisa totalitas branding lembaga kita, karena ini rumah orang masak mau kamu ubah-ubah tata letak dan identitas brandingnya. Betul tidak?

Eksternal Crowdfunding bisa kamu fungsikan untuk rencana jangka pendek, dan kanal tambahan saja ya.

Hitung ROAS dan ROI

ROAS adalah metriks efektivitas dari sebuah campaign dalam digital marketing. Kita sudah membahasnya di poin ke 2, melalui digital marketing kita bisa mengetahui banyak hal.  Salah satunya adalah pendapatan (revenue) yang dihasilkan.

Rumus ROAS = (Revenue / Ad Spend)

Misalnya kamu menghabiskan biaya iklan sebanyak Rp 4 juta dalam 1 bulan. Lalu dari campaign tersebut kamu menghasilkan Rp 8 juta. Sehingga ROASnya adalah Rp 8 juta dibagi dengan Rp 4 juta = Rp 2 atau 2:1 atau 2

Dengan kata lain, setiap anda menghabiskan biaya iklan Rp 1 akan akan mendapatkan uang Rp 2. Jadi kalau kamu mau dapat donasi 8 Miliar tinggal keluarkan aja dana ikaln 4 Miliar. Mudahkan?

Ini cuma contoh aja ya.hehe agak berlebihan juga untuk mendapatkan 8 Miliar kita ngiklan 4 Miliar. Apa lagi ini untuk filantropi.

Return on Investment atau ROI adalah laba yang dihitung berdasarkan hasil pembagian dari pendapatan yang dihasilkan dengan total modal yang ditanam.

ROI =  (Pendapatan – Total Modal) /  Total Modal * 100

ROI adalah perhitungan yang lebih menyeluruh. Kalau ROAS hanya di bagi oleh uang iklan yang kita keluarkan. ROI pembaginya termasuk orang yang melakukan iklan, yang mendesain iklanya, yang membuat copywriting iklan, komputer yang dipakai, dst. Sudah paham?

Kenapa saya mengajak kamu untuk memperhatikan ROAS dan ROI? Kok kayak Bisnis sih?

Lembaga filantropi juga punya aturan-aturan sob dalam aspek syariah dan kepatutan. Untuk dana zakat misalnya.

Maksimal penggunan dana zakat untuk operasional adalah 12,5% atau 1/8

Bisa kita ambil kesimpulan ROI pengelolaan dana Zakat maksimal adalah 700%.

ROI = 100%/ 12,5% = 700%

Begitu juga dana infak atau sedekah yangmemiliki nilai ROI maksimal. Biasanya 20-30% dari total pendapatan atau ROI 400-500%.

Dana – dana sosial & keumatan harus di kelola professional bahkan lebih teliti dari dana -dana bisnis.

Bisnis yang merupakan dana pribadi atau investor saja jika mendapatkan ROI & ROAS perusahaanya anjlok. Pasti akan memberikan ganjaran kepada manajemen perusahan tersebut.

Organisasi  yang mengelola dana Sosial dan keumatan, Jika ROI dan ROAS Anjlok ganjaran yang diterima harus lebih bikin kapok. hehehe

Jadi, Perhatikan ROI dan ROAS kampanye digital marketing kamu ya. Jangan sampai kita zalim dalam pengelolaanya.

Sebelum duit keluar banyak pastikan semua sistem dan funnel marketing terukur dengan baik

Poin ini sangat penting untuk kamu bisa meningkatkan kualitas ROI dan ROAS . Apa itu Funnel marketing? sementara kamu bisa mempelajari tentang funnel di artikel berikut what is a marketing funnel?

Kita bisa menggunakan funnel paling sederhana yaitu membuatnya menjadi 3 tahap, yaitu:

  1. Awarness
  2. Consideration
  3. Conversion

Nah disetiap tahap memiliki kondisi market yang berbeda. Saya coba ilustrasikan dengan sebuah brand program Beastudi Etos Dompet Dhuafa sebagai berikut:

  • Tahu Beasiswa Etos? hmmmm. o iya saya tahu. pernah dengar. (Awarness)
  • Tahu Beasiswa Etos? Ya saya tahu. Beasiswa untuk mahasiswa faqir miskin dari Dompet Dhuafa di berbagai universitas itu kan y?  (Consideration)
  • Tahu Beasiswa Etos? Lah itu mah saya donaturnya kang. Saya rutin tiap bulan donasi ke program itu. (conversion)

Kebayangkan polanya?

Orang yang di fase consideration lebih mudah di ajak untuk donasi dibandingkan orang yang baru awarness aja.

Buat funnel cakep kayak diatas penerapanya gimana?

untuk pemula, kamu cukup gunakan google analityc.

Di tingkat lebih lanjut agar funnel kamu makin gahar pasang code tracking & formulir prospek untuk melakukan remarketing.

Apaan tuh code tracking. Saat ini ada dua mahluk paling terkenal, yaitu:

  • Facebook Pixel
  • Google Tag Manager

Ada juga adik-adiknya yang baru pada lahir milik twitter dan linkedin. Mungkin kedepan tiktok juga akan mengeluarkan code tracking juga. Cara kerja mereka harus kamu pahami ya.

Pixel Facebook adalah alat analisis yang memungkinkan kamu mengukur efektivitas iklan  dengan memahami tindakan yang dilakukan orang di situs web kamu.

Kamu dapat menggunakan pixel untuk:

  • Memastikan iklan kamu ditampilkan kepada orang yang tepat. Temukan pelanggan baru, atau orang-orang yang telah mengunjungi halaman tertentu atau melakukan tindakan yang diinginkan di situs web.
  • Dorong lebih banyak penjualan. Siapkan penawaran otomatis untuk menjangkau orang-orang yang lebih cenderung mengambil tindakan yang kamu inginkan, seperti melakukan pembelian.
  • Mengukur hasil iklan. Lebih baik memahami dampak iklan Anda dengan mengukur apa yang terjadi ketika orang melihatnya.

Kalau penjelasan untuk yang lain gimana? mirip-mirip kok fungsinya yang membedakan cuma perusahaan aja. hehe .Tapi leader untuk teknologi ini ada di Facebook pixel dan Google tag manager. Biasanya yang lain akan mengikuti pola yang sama.

Kalau cuma Punya Bujet < Rp1 Jt Perbulan Mulai Dari Mana?

Poin ini pasti paling kamu butuhkan ya. Kalau poin-poin sebelumnya mungkin cuma. hmmmmm, nganguk-nganguk, AHA! kalau yang ngerti. hehe

Saya akan menjelaskan dari mana kamu harus memulai dengan anggaran minimalis. Rp1jt perbulan pun sebenarnya udah besar ya.hehe udh 12jt setahun.

Tapi coba perhatikan penjelasan saya agar kamu tahu mana prioritas yang harus di lakukan dengan anggaran super minimalis.

Kita gunakan funnel sederhana di poin sebelumnya untuk memetakan anggaran digital marketing kita

  • Awarness : Mengenalkan brand kita ke orang-orang baru. Fungsinya untuk memperluas market untuk menudkung pertumbuh donatur & donasi.
  • Consideration :  Mengajak orang-orang yang sudah tahu untuk lebih mengenal dan menjadi pendukung brand kita.
  • Conversion: Para pendukung kita ajak menjadi donatur dan turin berdonasi setiap bulan atau tahun (retensi)

Tools yang bisa digunakan

  • Awarness : Social Media Organic, Blogging di website (SEO), Facebook Ads
  • Consideration:  Facebook Ads, Google Ads, Email Marketing (Remarketing)
  • Conversion:  Facebook Ads, Google Ads, Email Marketing , SMS Blast, Whatsapp Blast (Remarketing & Refundraising)

Jadi kamu harus punya tools atau cara untuk menghubungi semua orang di setiap fase.

Kalau mau rekamarting & optimasi fase cosideration apa tools nya? fase conversion apa tools nya? dst. Jadi kamu bisa mengembangkan jumlah market di funnel kamu.

Anggap saja kamu punya anggaran Rp1jt/ gak perlu semua list yang saya sebutkan diatas untuk dilakukan. Kamu bisa menyederhanakanya menjadi seperti berikut:

anggaran digital fundraising
contoh anggaran digital fundraising

Sekali lagi saya ingatkan, ini masih diluar hitungan biaya SDM ya. Jadi silahkan saja tambahkan sendiri, atau SDM yang ada bisa kita optimalkan untuk menjadi tim digital fundraising. Selalu perhatikan ROI nya juga.

Kamu juga perlu memikirkan funnel tambahan yang terjadi diluar ekosistem kita seperti akun sosial media orang lain, website orang lain, dan seterusnya.  Pelajari tentang Zero Moment of Truth (ZMOT) untuk memahami apa yang terjadi.

Namanya juga jualan, fisik produk harus kamu kasih ke donatur

Kok fisik produk? emangnya kita dagang sebuah barang?

Yup sama aja. Bedanya Fisik produk gak bisa dibawa pulang dan di konsumsi sama donatur.

Donasi yang kamu himpunkan harus di salurkan toh? Ada fisik yang di intervensi kan?

  • Lapar jadi kenyang
  • Miskin jadi cukup
  • Dhuafa jadi berdaya
  • Sakit jadi sembuh
  • dll

Yang perlu kamu kasih ke donatur itu cukup kasih tahu informasi penyaluran donasinya atau dampak dari donasi mereka. Gimana ceritanya, apa dampak bagi si penerima manfaat, dan masih banyak hal lagi. Poin ini adalah hal terpenting dari semua poin diatas.

Tanpa informasi dampak donasi, digital marketing kita ibarat kendaraan bermotor tanpa bensin. Fungsi kemudahan & mobilisasiya gak dapat, tapi malah mendorong kendaraan yang mogok.

Banyak diantara kita yang asyik menghimpun, Tapi lupa menceritakan dampak donasi tersebut.

Tips saya untuk poin ini adalah mulai dari langkah kecil, dan bagi menjadi beberapa fase. Di setiap fase kamu dapat membagikan cerita dampak donasi ke donatur dan calon donatur kamu.

Kesimpulan

Bagi kamu yang telah membaca sampai di tahap ini, Selamat kamu telah mendapatkan informasi dasar-dasar digital marketing fundraising.

Sebagai wawasan tambahan kamu bisa mendengarkan podcast orasi santai tentang Digital Makreting Filantropi dari nol.

informasi yang telah kamu dapatkan sejauh ini menjadi sia-sia jika tidak di dukung dengan praktek langsung dan latihan yang konsisten.

practise makes perfect. Sekarang gilliran kamu untuk mempraktekanya

 

Apa pendapat kamu tentang panduan ini?

mungkin kamu memiliki pertanyaan tentang langkah dalam proses. Silahkan tinggalkan komentar di bawah ya.

Saya akan coba membalas setiap komentar dan menjawab pertanyaan.

Jadi, jika kamu memiliki pertanyaan atau pemikiran, tinggalkan komentar saat ini.

Jangan lupa dukung imarketing.my.id untuk terus membuat konten keren dengan cara membagikan linkn artikel ini melalui sosial media kamu atau kirim via whatsapp ke rekan kerja yang membutuhkan.

4 thoughts on “Panduan Digital Marketing untuk Filantropi (2020)”

    1. tergantung metriksnya mas kholaf.

      apa yang mau kita cari? retensi donasi? brand awarness? dll

      Tapi kalau dr email sih tinggal kita latih cara mengukurnya di google analityc & meningkatkan keterampilan copywriting untuk memperbesar open rate email, CTR, dll

      on boarding data base email juga harus kita persiapkan dengan baik

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This